Bahaya di Balik Gula Diet


 

Coba perhatikan komposisi bahan pada bungkus-bungkus makanan jadi di sekitar kita, terutama yang berembel-embel kata ‘bebas gula’ atau ‘diet’. Apa yang Anda lihat di sana? Aspartame. Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa (sukrosa).

 

Aspartame memang dikenal sebagai gula diet. Tak mengherankan, bagi wanita yang sedang menjalani program mengurangi berat badan membawa gula diet kemasan sachet ini ke mana-mana.

Buat sebagian orang, mengonsumsi gula diet merupakan salah satu cara menjaga agar badan tetap sehat dan langsing. Bahkan, penggunaan gula jenis ini’disarankan bagi mereka yang mengidap penyakit diabetes.

Namun, siapa sangka, aspartam, salah satu zat pemanis buatan yang umum terdapat pada gula diet, bisa menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi berlebih dalam jangka panjang. Beberapa efek negatif itu, misalnya, memicu gangguan jaringan otak manusia, menimbulkan sakit kepala, kejang-kejang, mati persendian, mual-mual, kejang otot, hingga akibat paling tragis: kematian.

Aspartam berpeluang menimbulkan kerusakan ginjal. Pasalnya, aspartam adalah kombinasi dari dua asam amino, asam aspartat dan fenilalanin. Seperti protein pada umumnya, asam-asam amino tersebut harus mengalami metabolisme di dalam tubuh.

Penguraian protein itu merupakan tugas ginjal. Apabila terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi aspartam, ginjal akan kecapaian dan bisa mengalami kerusakan, sehingga timbul penyakit ginjal. Padahal, ginjal berfungsi menyaring semua zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Jika ginjal rusak, kinerja tubuh akan berkurang, sehingga tubuh akan semakin mudah terserang penyakit.

Meski begitu, para ahli kesehatan juga sepakat bahwa aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi dalam takaran yang pas. Dosis yang aman adalah 40 miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan. Contohnya, seseorang berbobot tubuh 50 kg hanya boleh menenggak aspartam maksimum 2.000 mg (2 gram) sekali asup.

Namun, takaran tersebut, bisa dibilang cukup minim dan sulit dipatuhi. Maklum, bagi kebanyakan lidah takaran itu kurang membawa rasa manis. Padahal, bila menjadi kebiasaan dan dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang, dampak negatif tadi bisa muncul.

sumber:  VIVAnews

 

About duniakuro
this is great blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: